Dengan Cinta,
yang pahit bisa terasa manis.
Dengan Cinta,
tembaga menjadi emas.
Dengan Cinta,
yang kotor menjadi bersih.
Dengan Cinta,
sampah menjadi indah.
Dengan Cinta,
yang hitam menjadi putih.
Dengan Cinta,
yang mati bisa hidup kembali.
Dengan Cinta,
seorang raja bisa menjadi budak.
TETAPI,
dari ketulusan hati,
cinta dapat tumbuh dan berkembang.
Hidup bagaikan sebuah gelas kosong yang diisi air. Bila dibiarkan air itu akan terbuang percuma, tetapi akan berguna apabila diBAGIkan ke gelas yang lainnya. Hidup yang kita jalani ini juga merupakan sebuah karunia dari-NYA, yang perlu kita bagikan kepada sesama agar dapat bersama berkembang menjadi pribadi yang lebih berkualitas. Mari kita semua mulai BERBAGI dari hal yang sederhana.
Senin, 21 Desember 2009
Senin, 14 Desember 2009
Seleksi Alam
Jumat, 11 Desember 2009
Litani Pastur serba salah
Mungkin yang ada dibenak kita bila mendengar seorang pastur selalu tersaji imajinasi bahwa semua yang dimilikinya sempurna. Akan tetapi, bila sedikit saja kesalahan dibuatnya jasa besarnya selama ini tidak dianggap kembali. Benarkah seperti itu?.........
Kalau pastornya muda, dibilang masih blo'on.
Kalau pastornya tua, sebaiknya pensiun saja.
Kalau khotbah terlalu panjang, dibilang menjengkelkan.
Kalau khotbahnya cepat, "Kok, kayak kereta ekspres".
Kalau mulai misa tepat waktu, katanya kaku.
Kalau terlambat, "Idiih, pastornya malas".
Kalau di kamar pengakuan menasehati, katanya banyak omong.
Kalau sebaliknya, dibilang tidak tanggap.
Kalau mengikuti pendapat umat, dibilang tidak punya pendirian.
Kalau mengikuti pendapat sendiri, dicap diktator.
Kalau keuangan paroki mepet, katanya pastor tak pintar usaha.
Kalau ngomongin soal uang, dibilang mata duitan.
Kalau mengadakan misa lingkungan, katanya tak pernah kunjungan keluarga.
Kalau mengunjungi keluarga, "Kapan sih pastornya misa lingkungan?"
Kalau pastor tak ada di pastoran, dicap tukang ngeluyur.
Tapi kalau selalu ada, dibilang pastor kurang pergaulan.
Kalau memperhatikan anak-anak, dibilang "Masa kecil kurang bahagia".
Kalau memperhatikan Mudika, giliran orang tua ngegosip.
Kalau nonton TV, dibilang enak-enakan.
Kalau tidak, dibilang enggak mengikuti zaman.
TAPI, KALAU PASTORNYA MATI, SIAPA YANG MAU GANTI?
Sumber:enjoybareng.blogspot.com
Tugas Katekese kelas1
SIKHISME
PENYATUAN HINDU & ISLAM
Agama Sikh berdiri di penghujung abad ke-15 dan awal abad ke-16. Kata sikh sendiri berarti “murid” atau “pengikut”. Agama baru ini mengandung sedikit ajaran Islam dan Hindu di bawah semboyan "Bukan Hindu dan bukan Muslim". Agama ini bermula di Sultanpur, wilayah Punjab, India. Pendirinya bernama Guru Nanak (1469-1539), seorang yang beragama Hindu tradisional. Tujuan ia mendirikan agama baru adalah menjadikan sebuah agama yang diterima oleh semua orang India(agar tidak terjadi konflik antara yang beragama Islam dan Hindu), dengan demikian ia menggabungkan ciri-ciri terbaik agama Islam dan Hindu. Yang dimaksud ciri terbaik dari agama Islam dan Hindu adalah memakai ritual keagamaan dari agama Hindu dan memiliki kepercayaan monoteis seperti agama Islam. Mereka menyebut Tuhannya dengan sebutan Waheguru. Walau, dalam pembentukan awal agama ini sempat juga terjadi konflik, tetapi seiring dengan berjalannya waktu dan tahu maksud tujuan pembentukan agama ini adalah untuk perdamaian, maka agama inipun diterima baik oleh masyrakat India.
Setelah Guru Nanak wafat penerusnya di beri pangkat Guru. Rangkaian ini berakhir pada tahun 1708 selepas kematian Gobind Singh yang tidak meninggalkan pengganti manusia tetapi meninggalkan satu himpunan skrip suci yang dipanggil Adi Granth. Skrip ini kemudian diberi nama Guru Granth Sahib. Setelah itu pemimpin mereka dikenal dengan “Maha Raja”, anatara lain adalah MahaRaja Ranggit Sigh. Berikut kesepuluh ditambahkan dengan kitab suci yang dianggap guru:
1) Guru Nanak Dev (1469-1539 M)
2) Guru Angad Dev (1539-1552 M)
3) Guru Amar Das (1552-1574 M)
4) Guru Ram Das (mendirikan kota suci Amritsal di Afrika Utara) (1574-1581 M)
5) Guru Arjan Dev (penulis Adi Granth) (1581-1606 M)
6) Guru Har Gobind (pembawa Miri dan Piri, yang melambangkan peperangan dan semangat) (1606-1644 M)
7) Guru Har Rai (1644-1661 M)
8) Guru Har Krishan (1661-1664 M)
9) Guru Tegh Bahadur (1664-1675 M)
10) Guru Gobind Singh atau Ghuband Singh (1675-1708 M), yang telah mempermaklumkan berakhirnya matarantai “Guru”
11) Guru Granth Sahib (Kitab Suci, yang menggantikan kedudukan para Guru)
'Guru Granth Sahib' adalah sebuah kitab yang tebal, dengan 1430 halaman, yang dikompilasikan dan disusun pada masa Guru-guru Sikh, dari 1469 hingga 1708. Kitab ini dikompilasikan dalam bentuk nyanyian-nyanyian suci yang memuji Tuhan dan yang menggambarkan seperti apa Tuhan itu dan cara hidup yang benar. Kitab ini ditulis dengan huruf Gurmukhi, dan terutama dalam bahasa Punjabi kuno tetapi juga menggunakan garis-garis yang digunakan untuk bahasa-bahasa lain, termasuk bahasa Braj, Punjabi, Khariboli (Hindi), Sansekerta, dialek-dialek regional, dan bahasa Persia. Berikut sejumlah kitab dalam Guru Granth Sahib, Japji Sahib, Shabad Hazaray, Anand Sahib, Rehras Sahib, Kirtan Sohila, Sukhmani Sahib, dan Asa di Var.
Gobind Singh juga telah menubuhkan sebuah persatuan "Persaudaraan Khalsa Sikh" dan permulaan pemakaian seragam untuk lelaki Sikh yang taat kepada agamanya yang diberi gelar "Lima K".
Lima K atau panj kakke dipakai sepanjang masa oleh penyandangnya. Lima K tersebut, adalah:
1) kesh (rambut dan jenggot yang tidak dipotong, sebagai tanda kesucian dan pengabdian kepada Tuhan)
2) kangha (sikat atau sisir, penting untuk kebersihan, salah satu asas agama Sikh)
3) kara (gelang baja, yang di pakai dipergelangan tangan kanan sebagai peringatan bahwa Allah adalah satu dan para pemujanya tak dapat dihancurkan)
4) kirpan (pisau yang bermata dua atau pedang, yang melambangkan kesediaan untuk berjuang melawan tekanan fisik dan spiritual)
5) kachera (celana pendek tradisional, yang dipakai untuk memperlihatkan bahwa orang harus siap membela agama Sikh)
Upacara masuk agama ini disebut Armit Sanskar yang bermula dengan lima khalsa, memohon seorang dimasukkan kedalam persaudraan Khalsa sikh. Kemudian, juga harus meminum air madu yang dikibaskan oleh Kirpan, disebut dengan Amrit. Sesudah itu juga membaca lima banis suci. Kelima Banis Suci itu adalah:
Jap Sahib (dikarang oleh Guru Gobind Singh Ji)
Japji Sahib (terdapat di Guru Granth Sahib)
Sudha Swayas (dikarang oleh Guru Gobind Singh Ji)
Benti Chaupai (dikarang oleh Guru Gobind Singh Ji)
Anand Sahib (dikarang oleh Guru Amar Das)
Agama Sikh juga mempercayai reinkarnasi dan karma. Reinkarnasi pada agama Sikh tidak berbeda jauh dengan agama Hindu, untuk terbebas dari lingkaran kelahiran, kehidupan, dan kematian, seseorang harus menyebut nama Allah dan melayani orang lain. Kitab suci agama Sikh adalah Guru Granth Sahib, kitab suci ini ditulis dengan bahasa karmak. Nama tempat ibadah bagi umat sikh adalah gurdwara dalam bahasa Indonesia bisa disebut kuil. Bentuk bangunnya menyerupai mesjid, tetapi bercorak Hindu. Biasanya tempat ini digunakan untuk kegiatan yang bernama kirtan atau ibadat dengan menyanyikan puji-pujian dari Guru Granth Sahib, hal itu merupakan dasar seluruh ibadat Sikh.
Dalam agama Sikh ada sebuah perayaaan utama, yaitu Gurpurb, perayaan untuk mengenang peristiwa yang dialami oleh kesepuluh Guru. Tiga perayaan lainnya hanya perayaan biasa(Divali, Baisakhi, dan Hola Mohala).
Pada masa sekarang agama Sikh sudah mulai menyebarluas keluar daerah India, karena dibawa oleh pemeluk agama Sikh sendiri. Kini, agama ini sudah sampai di Inggris, Amerika, Eropa daratan dan banyak daerah lainnya. Semuanya menandakan bahwa, Agama Sikh sudah dapat diterima dimana-mana.
Kamis, 10 Desember 2009
Life is Choice
Manusia terlahir kedunia penuh dengan pilihan-pilihan yang menentukan kehidupannya dimasa mendatang.Kita sendiripun sudah dihadapkan banyak pilihan semenjak bayi mula. Baik dan buruknya pilihan yang kita alami tergantung bagaiman kita menghadapi pilihan kita tersebut. Maka dari jangan takut untuk memilih karena, hanya kita sendiri yang mampu menentukan jalan hidup kita masing-masing.
Senin, 07 Desember 2009
HOTS ( Hari Orang Tua Seminaris)
7 Oktober 2007, saya bersama seluruh teman saya mengakhiri masa karantina selama tiga bulan di Seminari Wacana Bhakti. Saya melepas rindu dengan orang tua dan keluarga sungguh hal yang menyenangkan. Kami mengambil tema " Ini Aku, Utuslah Aku"
Minggu, 06 Desember 2009
Satu Hati Satu Tujuan
Aku bersama ke-19 teman baruku yang memiliki tujuan dan motivasi yang sama untuk menjadi seorang pelayan bagi Tuhan. 11 JULI 2009, itulah tanggal dimana kami semua berjumpa untuk pertama kalinya. Kami semua datang dari bermacam-macam latar belakang yang berbeda dan memiliki keunikan dari setiap pribadi.
Saya bersama teman yang lain merupakan angkatan ke-21, dan memiliki pelindung St. Benediktus, Abbas
Langganan:
Komentar (Atom)

