Sabtu, 17 April 2010

Resensi Novel Gading-Gading Ganesha

Sepercik Kisah dari Bumi Ganesha



Judul Buku : Gading-Gading Ganesha ( 3G )
Penulis : Dermawan Wibisono
Tebal Buku : 390
Penerbit : Mizan, 2009
Ada beberapa ungkapan yang menyatakan masa muda adalah masa yang berapi-api dan penuh semangat serta gairah. Remaja yang beranjak dewasa selalu memiliki idealisme yang sangat tinggi dan kokoh, begitu pula yang digambarkan oleh Dermawan Wibisono dalam novel ini. Cerita yang mengambil sebagian besar latar belakang di Bandung ini, menceritakan kisah enam orang sekawan yang menempuh pendidikan dibumi Ganesha. Keenam remaja itu berasal dari berbagai daerah di Indonesia, yang mempunyai satu tujuan untuk mengenyam pendidikan di salah satu universitas ternama. Diawali dengan perkenalan dari setiap karakter dengan berbagai ciri khas yang menunjukan keaneka ragaman status sosial dan kebudayaan dari berbagai daerah di Indonesia. Keenam karakter itu adalah Slamet dari Trenggalek, Poltak dari Pematang Siantar, Ria dari Padang, Benny dari Jakarta, Gun Gun dari Ciamis, dan Fuad dari Surabaya.

Di dalam novel ini juga dijelaskan sejarah ITB dan kemahasiswaan yang dapat mengingatkan kita sekali lagi sebagai mahasiswa ITB khususnya ataupun masyarakat Indonesia pada umumnya tentang apa tujuan dan hakikat dari mahasiswa. Ada cerita jaman 1978 dimana saat itu kampus diduduki oleh tentara. Cerita ini diambil dari catatan harian mahasiswa ITB angkatan 1977. Dimana saat itu pula belum ada yang namanya himpunan. Yang ada hanya unit-unit yang sesuai dengan minat mahasiswa serta kemahasiswaan terpusat. Cerita didalamnya membuat kita, mahasiswa ITB saat ini, percaya dengan apa yang terjadi saat itu. Cerita yang biasanya hanya kita dengar sekilas lalu kemudian dilupakan karena terlena akan kenyamanan yang diberikan ITB saat ini.

Sang pengarang juga merupakan salah seorang alumnus ITB jurusan Teknik Industri tahun 1989. Novel ini, merupakan karya kedua dari Dermawan Wibisono, sebelumnya ia menulis Sang Juara: Misteri Hilangnya Shireley (2008) serta menanti penerbitan buku Lentera Jiwa. Selain menulis novel Dermawan Wibisono juga membuat beberapa buku akademis.

Menurut saya buku ini sangat menggambarkan semangat juang seorang remaja demi mencapai cita-citanya dengan berbagai macam daya upaya yang disertai segala macam intrik-intrik yang ada. Buku ini sangat cocok dibaca oleh para remaja yang semangatnya atau idealismenya masih berkobar-kobar. Alur cerita yang sederhana dan menarik membuat orang mampu menikmati jalan ceritanya. Bagi para mahasiswa dan alumnus ITB, novel ini mampu membangkitkan kenangan yang unik akan ITB. Untuk pihak diluar ITB, dapat menambah wawasan tentang ITB dan segala intrik dan karateristik yang ada pada sebagian mahasiswa dan kondisinya. Bila diterjemahkan dalam peribahasa kurang lebih dikatakan ”Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai”. Setelah membaca novel ini semangat idealisme dan nasionalis kita akan bangkit kembali demi Indonesia Jaya.

Senin, 12 April 2010

Merasakan Indahnya Impian

Live-in selama lima hari merupakan waktu yang singkat namun sangat berarti dalam hidupku.
Banyak makna kehidupan yang kutemukan serta pikiran dan pandanganku juga m enjadi terbuka lebih luas.

Senin, 8 Febuari 2010


Hari ini merupakan hari pertamaku menjalani seluruh hariku di Wisma Yohanes Paulus II, Cempaka Timur, setelah kemari malam tiba ditempat ini. Ditempat ini aku akan live-in hingga hari jum’at bersama tiga orang temanku yang lain dengan tujuan mengenal lebih jauh kehidupan para romo dan frater diosesan jakarta. Kegiatan dipagi hari tidak berbeda dengan kegiatan di Seminari Wacana Bhakti, yaitu mandi dan ibadat serta perayaan ekaristi. Kegiatan selanjutnya adalah sarapan dan belajar dikampus karena wisma ini ditujukan bagi para fater diosesan yang sedang mengenyam pendidikan baik filsafat dan teologi. Berhubung hanya frater tingkat 2 saja yang sedang tidak ada mata kuliah hari ini, saya diajak berkeliling jakarta untuk mengetahui medan yang harus ditempuh seorang Diosesan Jakarta. Tujuan awal adalah katedral dan dlanjutkan ke Wisma Puruhita, Klender tempat TOR ( Tahun Orientasi Rohani) namun, para frater sedang tidak ada karena sedang probasi luar. Sekembalinya kesini, saya bersama yang lain langsung menyantap hidangan yang telah tersaji. Sore tadi saya juga menyaksikan pertandingan frater diosesan jakarta dengan para frater Jesuit dalam rangka dies natalis (ulang tahun STF) dan berkahir dengan kekalah bagi para frater Diosesan Jakarta.

Dari serangkaian aktivitas yang telah saya lakukan selama sehari ini banyak hal yang menjadi pelajaran berharga. Ketika saya ke katedral saya melihat seorang frater yang sedang mengurus keuang wisma karena menjadi seorang ekonom, tugas itu membutuhkan sebuah tanggung jawab yang besar dan magement uang yang baik. Sebagai seorang calon imam tanggung jawab merupakan sebuah hal yang sanat penting, karena dimasa mendatang akan banyak tugas yang memerlukan tanggung jawab lebih besar sebagai seorang imam. Management uang juga sangat penting, bukan masalah akan nombok ketika kekurangan uang, melainkan sebuah bentuk ketegasan dalam pemberian uang. Yesus sendiri menyatakan, apabila kamu mampu menghadapi sebuah kecil, maka kamu akan diberikan dengan perkara yang lebih besar.

Hal lain yang saya dapatkan selama berkeliling sebagian kota jakarta adalah hidup sebagai seorang imam diosesan haruslah mampu memahami apa yang dialami oleh para umatnya mulai dari yang mampu hingga yang berkekurangan, dari yang sehat jasmani dan rohani hingga orang-orang yang ditinggalkan oleh sanak familinya. Disitu peran seorang imam sekuler dibutuhkan karena ada dan berkembang dalam masyarakat seoerti itu bahkam hingga meninggal bersama masyarakat tersebut.



Selasa, 9 Febuari 2010

Dipagi hari semua kegiatan sama halnya dengan hari kemarin, bangun, mandi, doa pribadi, dan dilanjutkan dengan perayaan ekaristi. Setelah sarapan para frater segera bersiap-siap menuju kampus untuk menempuh pelajaran, sementara itu saya bersama teman-teman mengunjungi Paroki Kelapa Gading. Saya kesana didampingi oleh frater Anast menggunakan sepeda dengan menikmati jalan-jalan santai diantara motor dan mobil yang lalu lalang dengan tergesa-gesa menuju kantor. Dengan bersepeda maka dapat mengetahui situasi dan gambaran masyarakat Jakarta yang nantinya menjadi medan yang akan ditempuh. Sesampainya di Kelapa Gading saya bersama langsung mengelilingi bangunan gereja yang baru jadi dan mendapat penghargaan dari MURI (Museum Rekor Indonesia). Kami juga diajak berkeliling stasinya, sebuah potret kemakmuran Gereja Katolik. Sore harinya ada opera, tidak jauh berbeda dengan opera diseminari, mungkin hanya tanpa adanya iringan musik saja. Setengah jam sebelum makan malam ada latihan koor bahasa inggris, mungkin untuk misa bahasa inggris hari kamis. Latihan koor berjalan cukup cepat namun efektif karena satu lagu baru sudah dapat dinyanyikan dengan lumayan lancar. Setelah rohani malam, saya bersama yang lain diajak untuk menonton film yang berjudul “Love So Divine”. Film tersebut mencerita pergulatan batin seorang frater yang akan dimenerima tahbisan diakon.

Setiap manusia terlahir kedunia terlahir dengan penuh banyak pilihan yang dilandasi berbagai macam alasannya. Romo Adi Prasojo pernah mengatakan kepada saya saat retret, bahwa sebuah pilihan akan semakin matang apabila disertai dengan banyak pertimbangannya. Hidup memeng sebuah pilihan dan setiap individunya harus menentukan pilihan hidupnya sendiri, karena sekecil apapun pilihannya akan berpengaruh bagi masa depannya. Dari serangkain aktivitas yang telah saya jalankan selam hari ini saya merasa semakin tertantang untuk melanjutkan cita-cita ini sebagai jalan hidup saya. Saya sendiri Tuhan telah berkarya dalam hidup saya dan memberikan rahmat-Nya agar saya mampu memilih mana yang terbaik bagi diri saya sendiri. kehidupan panggilan yang telah jalani selama ini juga sebagai bentuk bahwa hidup merupakan sebuah pilihan, dan pilihan yang saya ambil adalah untuk menjadi pelayan Tuhan sebab karya-Nya dalam hidup saya sungguhlah besar dan luar biasa.



Rabu, 10 Febuari 2010

Hari ini banyak sekali aktivitas yang telah saya lakukan dari matahari terbit hingga malam gelap tiba. Kegiatan yang saya lakukan mulai pagi tadi adalah berenang, menyuci pakaian, bermain bersama para frater di STF (Sekolah Tinggi Filsafat) Driyakarya, menyaksikan latihan kotbah, hingga sharing dengan teologan di HIK (Hidangan Istimewa Kampung) Solo. Dari serangkaian kegiatan yang melelahkan dan menyenangkan itu banyak hal penting yang saya dapatkan. Salah satu contohnya adalah saat ingin menyaksikan pertandingan basket antara para para frater Diosesan Jakarta dengan para frater Jesuit, saat itu para frater Jesuit terlambat datang hingga mereka kalah WO (walk out), itu menunjukan bahwa sebuah kedisplinan sangatlah penting. Sebuah pertandingan memang bukanlah sesuatu yang sangat penting tetapi displin terhadap waktu memang sangatlah penting. Bila dari hal kecil saja sudah tidak mampu displin bagaiman dengan perkara yang lebih besar, untuk itu pendidikan diseminari menengah dan tinggi sangat berguna agar nantinya kelak menjadi seorang pastor habitus yang baik itu sudah tertanam. Semua itu dikarenak saat sudah menjadi seorang pastor tidak ada jadwal yang harus ditaati.

Pada saat sharing dengan teologan juga punya makna tersendiri dari lokasinya. Tempat sharing merupakan salah satu tempat jualan kaki lima yang menunjukan keragaman umat Jakarta dari segi status sosialnya. Mungkin banyak orang yang berpendapat berkarya di Jakarta sangat enak karena banyak orang kaya, tetapi faktanya banyak orang yang kurang mampu yang menjadi umat Jakarta. Orang-orang semacam itulah yang menjadi fokus pelayanan di Jakarta, akan tetapi yang kaya tidak dilayani melainkan difokus kan bagi orang-orang yang terluapakan. Menurut saya anggapan banyak orang mengenai berkarya sangat enak karena banyak yang kaya adalah salah karena itu adalah Jakarta tampak luar, jika masuk kedalamnya ada berbagai problema yang lebih kompleks di Jakarta. Permasalah yang dialami oleh Gereja Katolik Jakarta antara lain banyaknya umat yang berkekurangan hingga tidak mampu merayakan ekaristi, selain itu ada orang yang terlupakan oleh orang sekitarnya serta banyak juga orang yang kaya secara financial tetapi tidak memiliki waktu bagi Tuhan. Masih banyak hal yang perlu dibenahi dari umat Jakarta, tidak senyaman dari penampkan luarnya. Untuk itu lihatlah sebuah hal jangan dari luarnya saja melainkan sampai dalamnya bahkan hingga bagian yang belum pernah disentuh oleh orang lain, karena itulah bagian yang terpenting. Don’t just see a book from the cover, but from the quality of the book.



Kamis, 11 Febuari 2010



Seorang imam diosesan banyak diidentikan sebagai imam sekuler atau imam duniawi. Anggapan orang mengenai imam duniawi adalah imam yang memiliki kekayaan duniawi, padahal yang sebenarnya seorang imam yang hidup bersama didalam umat suatu keuskupan baik yang mampu maupun yang berkekurangan. Hal tersebut saya rasakan setelah beberapa hari tinggal di Wisma Yohanes Paulus II, karena saya diberikan kesempatan untuk merasakan kehidupan disini. Pada saat doa lintas angkatan tadi, saya baru tersadar bahwa semakin tinggi tingkatannya maka, semakin banyak pula tantangan yang harus dihadapi. Para frater mengatakan beratnya beban studi yang sangat berbeda jauh dengan pola belajar anak SMA, mengahruskan mereka mampu setia untuk duduk didapan meja belajar. Belajar hanyalah salah satu tantangan yang mereka alami masih banyak kegiatan yang menyibukan serta masalah pribadi yang ada. Seorang frater berkata kepada saya bahwa lebih baik melakukan semua kenakalan di seminari menengah daripada keburu menjadi seorang frater karena akan menjadi lebih gawat.

Hari ini tidak terlalu banyak kegiatan yang kulakukan dan semuanya hanya didalam wisma saja. Ketika opera saya hanya berdua saja karena salah seorang frater yang tugas operanya bersama saya sedang sakit. Awalnya saya merasa akan lebih lelah bila hanya berdua saja ternyata tidak karena mengerjakannya dengan kesungguhan hati. Saat melihat aula sebelum memulai opera terlihat tidak kotor dan setelah disapu lantainya, ternyata cukup banyak debunya. Dari hal tersebut saya merasa suatu hal tak selalu dengan kenyataannya, tergantung bagaimana kita mampu memaknainya. Seperti sebuah ungkapan yang terkenal ”hidup yang tidak direfleksikan adalah mati” maksudnya adalah setiap detik gerak yang kita lakukan merupakan sebuah anugrah Yang Kuasa dan harus disyukuri.

Tantangan merupakan sebuah hal yang wajar dalam mengarungi kehidupan karena itu merupakan sebagai salah satu warna kehidupan. Tantangan atau hambatan bukan untuk dihindari melainkan untuk dihadapi dan dilewati sebaik mungkin. Untuk itu hadapilah kehidupan yang menanti didepan sana karena kita tidak tahu hambatan apa yang menati kita.



Jum’at, 12 Febuari 2010

Hari ini merupakan hari terakhir saya tinggal bersama para frater diosesan Jakarta. Perayaan ekaristi pagi tadi dipimpin oleh Romo Vico yang baru pulang dari kuliahnya di Amerika Serikat. Saat memimpin perayaan ekaristi, dia sangat bersemangat menujukan kualitasnya sebagai lulusan salah satu universitas di negeri Paman Sam. Pada jadwal yang dibuat, seharusnya saya bersepeda menuju wisma yang berada di Cempaka Raya, tetapi hal itu terlaksana karena Romo Tunjung Ingin berbincang-bincang dengan saya dan yang lainnya. Dalam perbincangan tersebut saya bersama yang lain membagikan pengalaman kami selama berada di Wisma Yohanes Paulus II dan alasan mengapa kami ingln Live-in disana. Romo Tunjung memberikan beberapa masukan bagi kami dan juga mengatakan bahwa ini adalah kali pertama mereka menerima live-in. Biasanya yang menerima live-in adalah Wisma Puruhita, karena disana lebih banyak kegiatan rohani di banding dengan Wisma Cempaka Putih Timur, yang menjadi rumah studi bagi para frater.

Setelah selesai berbincang-bincang dengan Romo Tunjung, saya mengisi waktu luang dengan mengetik refleksi harian, mencuci pakaian, dan berbincang-bincang dengan para frater yang sedang tidak kuliah. Pada hari terakhir ini saya tidak mau menyia-nyiakan waktu saya dengan bermalas-malasan, karena itu adalah sebuah kerugian yang sangat besar sebab hal semacam itu tidak akan datang dua kali. Membuang kesempatan merupakan suatu tindakan buruk dan menyebabkan penyesalan yang mendalam pada akhir. Tuhan sendiri selalu memberi kesempatan bagi umat-Nya dalam segala macam hal, tetapi manusia itu sendirilah yang menyia-nyiakannya. Bertolak dari hal tersebut, saya merasa bahwa setiap kesempatan yang berada didepan mata harus diambil, keberhasilan merupakan sebuah bonus apabila kita mampu melaksakannya dengan baik.

Hal yang terpenting pada hari ini adalah berterima kasih kepada frater dan romo atas kesempatan yang diberikan kepada saya dan yang lain. Kata terima kasih meskipun terdengar biasa dan sederhana tetapi merupakan kata yang indah dan penuh makna apabila dikatakan dengan hati yang sungguh. Sebenarnya setiap kata yang dilontarkan oleh manusia semua memiliki makna yang indah, asalkan berasal dari hati manusia.



Live-in merupakan sebuah kegiatan yang sangat bermanfaat bagi saya dan panggilan saya karena memberi banyak masukan yang sangat berguna. Dengan hal itu pulalah dapat memberi penguatan dalam banyak aspek tidak hanya dari kehidupan panggilan saya.