Kamis, 30 Mei 2013

PEREGRINATIO (Cibadak- Klender)



Peregrinatio mungkin sebuah kata yang asing di kuping masyrakat pada umumnya. Peregrinatio berasal dari bahasa latin yang artinya perjalanan. Dalam bahasa Inggris bisa diterjemahkan dengan frase long march, perjalanan yang jauh atu panjang.
Saya pernah melakukan tugas peregrinatio ini, pada akhir tahun 2011. Saya mendapat rute Cibadak-Klender. Pada saat itu saya tidak tahu dimana lokasi Cibadak itu sebenarnya, sehingga saya pun tidak bisa memperkirakan berapa lama waktu yang dibutuhkan. Oh ya, sekedar catatan dalam perjalanan ini saya hanya mendapat ongkos sekali perjalanan, yaitu ongkos dari Jakarta ke Cibadak. Saya tidak bekali uang sepeserpun untuk bekal di sepanjang perjalanan. Perjalanan dimulai pukul 08.00 dari Klender, Jakarta Timur menuju ke sekolah Mardi Yuana Cibadak. Saya bersama kedua rekan lainnya menggunakan kendaraan umum menuju kesana. Sekitar jam 1 siang, akhirnya saya sampai di tempat tujuan. Dari sanalah, perjalanan yang luar biasa dan tak terlupakan saya mulai.
Perjalanan menuju Klender dimulai pukul 13.45. Saya mulai berhitung kira-kira berapa lama waktu yang dibutuhkan, setidaknya sampai di Bogor. Saya merasa mampu sampai di Terminal Barangnangsiang besok pagi, karena dalam hitungan saya satu jam perjalanan mampu sekitar empat sampai enam kilometer. Dua setengah jam pertama, saya berjalan tanpa beristirahat kondisi tubuh saya masih sangat prima. Sejenak istirahat untuk makan sebungkus nasi dengan buncis. Inilah uniknya, saya mendapat sebungkus nasi untuk dimakan bertiga merupakan hasil dari meminta kepada penjual nasi warteg. Perjalanan dilanjutkan dengan latar semburat warna jingga menghiasi cakrawala. Malam menjelang saya dengan kedua rekan, akhirnya memutuskan beristirahat di sebuah SPBU. Saya menjaga tas-tas kami dan mereka yang mencari makan, dan kali ini kami beruntung karena mendapat dua bungkus nasi beserta lauknya. Setelah puas beristirahat perjalananpun berlanjut hingga larut malam. Kamipun mulai mempertimbangkan akan tidur dimana malam itu, akhirnya kami memutuskan untuk tidur di emperan sebuah ruko. Udara yang dingin ditambah kealpaan saya untuk membawa sarung membuat tubuh saya menggigil.
Hari pun berganti, tidak lama setelah adzan subuh berkumandang kami mulai bangun untuk melanjutkan perjalanan. Jalan yang harus kami lewati lebih “menantang” dari hari pertama, karena banyak tanjakan curam, tanjakan disertai tikungan, dan tidak ketinggalan truk-truk besar keluar dari “sarangnya”. Kami sempat berhenti pada tanjakan yang cukup panjang, karena salah seorang rekan saya sudah merasa sakit pada engkel kakinya. Saat turunan saya melihat sebuah papan informasi yang bertuliskan Bogor 12 KM dan Jakarta 71 KM. Pemandangan itu membuat saya cukup patah semangat karena yang telah saya jalani belum ada apa-apanya. Selanjutnya kami membuat target akan beristirahat agak panjang di Koramil Ciawi, bila diperkenakan. Akan tetapi sebelum sampai di tempat tujuan kami sudah lapar dan beristirahat untuk menyantap sarapan yang kami dapatkan dari belas kasih penjual nasi warteg. Ternyata, tidak sampai lima belas menit kami sudah sampai dan diperkenankan untuk beristirahat. Saya segera meminta izin untuk menggunakan kamar mandi untuk mandi agar badan lebih segar. Saya sempat berjumpa dengan dua rombongan lainnya. Rombongan yang yang pertama menuju Cibadak dan yang kedua menuju puncak, Cipanas.
Puas beristirahat perjalanan pun berlanjut dengan medan yang berbeda, jalannya tidak lagi menanjak dan dan menurun tetapi teriknya matahari dan debu asap kendaraan yang menjadi tantangannya. Perjalanan pun kembali berlanjut dengan tujuan Terminal Barangnangsiang. Tak disangka, saya sampai ditempat tujuan sudah tengah hari dan kondisi saat itu sangatlah panas. Perjalanan yang saya kira bisa ditempuh dalam waktu singkat ternyata tidak menjadi kenyataan. Saya menggunakan perhitung orang yang dalam keaadaan sehat berjalan, sedangkan saat itu saya sudah mulai kepayahan menghadapi rasa sakit di telapak kaki. Saya memiliki target pribadi untuk melihat DKI Jakarta sebelum memejamkan mata, pada hari kedua ini. Berjalan dibawah teriknya sinar matahari membuat langkah kaki terasa lebih berat dan jalan menjadi membosankan. Dibawah pohon yang rindang kami pun beristirahat untuk mengembalikan semangat yang mulai luntur.
Setelah berjalan cukup jauh kami pun beristirahat di Polres Bogor Kota. Saya berbincang bincang kepada seorang bapak tua dan menanyakan jarak dari tempat itu ke Cibinong. Ia berujar, “Kalau naik motor motor sih nggak lama sih, paling cuma 15 sampai 20 menit saja.” Kemudian saya bertanya kira berapa kilometer lagi yang harus di tempuh. Ia menjawab sekitar 50 kilometer lagi, saya sangat terkejut mendengar ucapannya. Secara jujur saat itu semangat saya patah, namun tidak saya tularkan kepada dua rekan yang lainnya. Target yang saya buat saat berjalan pupus sudah, tidak mungkin bisa terlaksanakan. Bahkan saya sempat berpikir tidak akan mampu menyelesaikan perjalanan tersebut. Sekitar jam empat sore kami beristirahat sejenak untuk makan yang kedua kalinya. Setelah itu semangat saya kembali berkobar karena melihat sebuah reklame kecil yang bertuliskan selamat datang di Kota Cibinong. Menjelang malam kami masih terus bejalan tanpa ada target, hanya berjalan sampai lelah dan istrihat kembali. Kala itu saya kagum dengan salah seorang rekan saya yang bisa melangkah dengan ringan dan seperti tanpa beban. Ternyata sepanjang perjalanan ia jarang melihat jalan yang panjang, tetapi menatap garis bahu jalan yang membuat dirinya seperti tanpa beban. Ketika saya coba lakukan pula terasa lebih nyaman karena fokus dengan garis bahu jalan dan tidak memikirkan betapa jauhnya jalan yang harus ditempuh. Saya pun mengusir rasa bosan dengan berdoa Rosario di sepanjang jalan menggunakan gelang tangan Rosario. Tidak terasa hari mulai larut malam dan kami memutuskan tidur lebih awal. Udara disana lebih bisa diterima oleh tubuh saya sehingga bisa tidur dengan cukup nyenyak.
Mataku mulai terbuka dan menyaksikan jalanan yang sangat gelap karena lampu penerangan jalannya tidak berfungsi. Sekitar setengah lima kami mulai melanjutkan perjalanan yang diwarnai oleh gerimis sepanjang jalan. Kondisi tubuh saya sudah mulai membaik dan  menjadi lebih bersemangat. Sekitar jam lima kami sudah sampai di Depok dan beristirahat sejenak di sebuah SPBU. Hampir tiga jam perjalanan kami tempuh dengan beberapa kali istirahat singkat, ternyata mampu berpindah hampir 10 kilometer. Istirahat untuk makan dilakukan didepan Mall Cimanggis. Kami makan satu bungkus nasi dengan lauk yang sederhana. Menjelang siang, saya membaca sebuah rambu yang isinya larang bagi becak untuk beroperasi, ketika saya perhatikan lebih detail itu rambu yang keluarkan oleh Pemda DKI Jakarta. Saya sangat senang karena akhirnya sampai juga di Jakarta. Sepanjang perjalanan itu kami tidak makan apapun, karena kami tidak menemukan warung nasi. Kami hanya sekedar meminta air saja sepanjang perjalanan. Ketika sampai di Cijantung, saya mengatakan kepada yang lain untuk beristirahat karena telapak kaki saya semakin sakit. Kamipun beristirahat di sebuah SPBU, saat itu saya mulai pesimis bisa sampai tempat tujuan dan matahari pun sudah berada tepat diatas kepala.
Menjelang sore hari langkah kaki sudah sangat lambat, bila dibandingkan dengan seorang ibu tua yang berjalan sambil membawa belanjaannya. Benar-benar rasanya sudah seperti titik maksimal, ingin rasanya segera menyerah. Untungnya saya melihat PGC, ada kelegaan dalam diri saya yang muncul karena perjalanan sudah tidak jauh lagi. Pesimisme mulai pudar dan munculah optimisme bahwa saya bisa sampai ditempat tujuan pada hari itu, tidak peduli jam berapapun itu. Sampai di Stasiun Jatinegara sudah sekitar setengah lima sore, perjalanan masih berlanjut dengan berbekal air minum sisa di tas masing-masing. Sang surya pun mulai kembali keperaduannya menyisakan semburat cahaya jingganya yang menuntun kami ke tempat tujuan. Saya bisa sampai di tempat tujuan sebelum tahun berganti. Saya merasa sangat bersyukur karena mampu menjalankan tugas ini, karena  banyak nilai yang didapatkan serta tidak semua orang pernah merasakannya.