Peregrinatio
mungkin sebuah kata yang asing di kuping masyrakat pada umumnya. Peregrinatio
berasal dari bahasa latin yang artinya perjalanan. Dalam bahasa Inggris bisa
diterjemahkan dengan frase long march, perjalanan
yang jauh atu panjang.
Saya pernah
melakukan tugas peregrinatio ini, pada akhir tahun 2011. Saya mendapat rute
Cibadak-Klender. Pada saat itu saya tidak tahu dimana lokasi Cibadak itu
sebenarnya, sehingga saya pun tidak bisa memperkirakan berapa lama waktu yang
dibutuhkan. Oh ya, sekedar catatan dalam perjalanan ini saya hanya mendapat ongkos
sekali perjalanan, yaitu ongkos dari Jakarta ke Cibadak. Saya tidak bekali uang
sepeserpun untuk bekal di sepanjang perjalanan. Perjalanan dimulai pukul 08.00
dari Klender, Jakarta Timur menuju ke sekolah Mardi Yuana Cibadak. Saya bersama
kedua rekan lainnya menggunakan kendaraan umum menuju kesana. Sekitar jam 1
siang, akhirnya saya sampai di tempat tujuan. Dari sanalah, perjalanan yang
luar biasa dan tak terlupakan saya mulai.
Perjalanan menuju
Klender dimulai pukul 13.45. Saya mulai berhitung kira-kira berapa lama waktu
yang dibutuhkan, setidaknya sampai di Bogor. Saya merasa mampu sampai di
Terminal Barangnangsiang besok pagi, karena dalam hitungan saya satu jam
perjalanan mampu sekitar empat sampai enam kilometer. Dua setengah jam pertama,
saya berjalan tanpa beristirahat kondisi tubuh saya masih sangat prima. Sejenak
istirahat untuk makan sebungkus nasi dengan buncis. Inilah uniknya, saya mendapat sebungkus nasi untuk
dimakan bertiga merupakan hasil dari meminta kepada penjual nasi warteg. Perjalanan
dilanjutkan dengan latar semburat warna jingga menghiasi cakrawala. Malam menjelang saya dengan kedua rekan, akhirnya
memutuskan beristirahat di sebuah SPBU. Saya menjaga tas-tas kami dan mereka
yang mencari makan, dan kali ini kami beruntung karena mendapat dua bungkus
nasi beserta lauknya. Setelah puas beristirahat perjalananpun berlanjut hingga
larut malam. Kamipun mulai mempertimbangkan akan tidur dimana malam itu,
akhirnya kami memutuskan untuk tidur di emperan sebuah ruko. Udara yang dingin
ditambah kealpaan saya untuk membawa sarung membuat tubuh saya menggigil.
Hari pun
berganti, tidak lama setelah adzan
subuh berkumandang kami mulai bangun untuk melanjutkan perjalanan. Jalan
yang harus kami lewati lebih “menantang” dari hari pertama, karena banyak
tanjakan curam, tanjakan disertai tikungan, dan tidak ketinggalan truk-truk
besar keluar dari “sarangnya”. Kami sempat berhenti pada tanjakan yang cukup
panjang, karena salah seorang rekan saya sudah
merasa sakit pada engkel kakinya.
Saat turunan saya melihat sebuah papan informasi yang
bertuliskan Bogor 12 KM dan Jakarta 71 KM. Pemandangan itu membuat saya cukup
patah semangat karena yang telah saya jalani belum ada apa-apanya. Selanjutnya
kami membuat target akan beristirahat agak panjang di Koramil Ciawi, bila
diperkenakan. Akan tetapi sebelum sampai
di tempat tujuan kami sudah lapar dan beristirahat untuk menyantap sarapan yang
kami dapatkan dari belas kasih penjual nasi warteg. Ternyata,
tidak sampai lima belas menit kami sudah sampai dan diperkenankan untuk
beristirahat. Saya segera meminta izin untuk menggunakan kamar mandi untuk
mandi agar badan lebih segar.
Saya sempat berjumpa dengan dua rombongan lainnya.
Rombongan yang yang pertama menuju Cibadak dan yang kedua menuju puncak,
Cipanas.
Puas beristirahat
perjalanan pun berlanjut dengan medan yang berbeda, jalannya tidak lagi
menanjak dan dan menurun tetapi teriknya matahari dan debu asap kendaraan yang
menjadi tantangannya. Perjalanan pun kembali berlanjut dengan tujuan Terminal
Barangnangsiang. Tak disangka, saya sampai ditempat tujuan sudah tengah hari
dan kondisi saat itu sangatlah panas. Perjalanan yang saya kira bisa ditempuh
dalam waktu singkat ternyata tidak menjadi kenyataan. Saya menggunakan
perhitung orang yang dalam keaadaan sehat berjalan, sedangkan saat itu saya
sudah mulai kepayahan menghadapi rasa sakit di telapak kaki. Saya memiliki target
pribadi untuk melihat DKI Jakarta sebelum memejamkan mata, pada hari kedua ini.
Berjalan dibawah teriknya sinar matahari membuat langkah kaki terasa lebih
berat dan jalan menjadi membosankan. Dibawah pohon yang rindang kami pun
beristirahat untuk mengembalikan semangat yang mulai luntur.
Setelah
berjalan cukup jauh kami pun beristirahat di Polres Bogor Kota. Saya berbincang
bincang kepada seorang bapak tua dan menanyakan jarak dari tempat itu ke
Cibinong. Ia berujar, “Kalau naik motor motor sih nggak lama sih, paling cuma
15 sampai 20 menit saja.” Kemudian saya bertanya kira berapa kilometer lagi
yang harus di tempuh. Ia menjawab sekitar 50 kilometer lagi, saya sangat
terkejut mendengar ucapannya. Secara jujur saat itu semangat saya patah, namun
tidak saya tularkan kepada dua rekan yang lainnya. Target yang saya buat saat
berjalan pupus sudah, tidak mungkin bisa terlaksanakan. Bahkan saya sempat
berpikir tidak akan mampu menyelesaikan perjalanan tersebut. Sekitar jam empat
sore kami beristirahat sejenak untuk makan yang kedua kalinya. Setelah itu
semangat saya kembali berkobar karena melihat sebuah reklame kecil yang
bertuliskan selamat datang di Kota Cibinong. Menjelang malam kami masih terus
bejalan tanpa ada target, hanya berjalan sampai lelah dan istrihat kembali. Kala
itu saya kagum dengan salah seorang rekan saya yang bisa melangkah dengan
ringan dan seperti tanpa beban. Ternyata sepanjang perjalanan ia jarang melihat
jalan yang panjang, tetapi menatap garis bahu jalan yang membuat dirinya
seperti tanpa beban. Ketika saya coba lakukan pula terasa lebih nyaman karena
fokus dengan garis bahu jalan dan tidak memikirkan betapa jauhnya jalan yang
harus ditempuh. Saya pun mengusir rasa bosan dengan berdoa Rosario di sepanjang
jalan menggunakan gelang tangan Rosario. Tidak terasa hari mulai larut malam
dan kami memutuskan tidur lebih awal. Udara disana lebih bisa diterima oleh
tubuh saya sehingga bisa tidur dengan cukup nyenyak.
Mataku
mulai terbuka dan menyaksikan jalanan yang sangat gelap karena lampu penerangan
jalannya tidak berfungsi. Sekitar setengah lima kami mulai melanjutkan perjalanan yang
diwarnai oleh gerimis sepanjang jalan. Kondisi tubuh saya sudah mulai membaik
dan menjadi lebih bersemangat. Sekitar jam
lima kami sudah sampai di Depok dan beristirahat sejenak di sebuah SPBU. Hampir
tiga jam perjalanan kami tempuh dengan beberapa kali istirahat singkat,
ternyata mampu berpindah hampir 10 kilometer. Istirahat untuk makan dilakukan
didepan Mall Cimanggis. Kami makan satu bungkus nasi dengan lauk yang
sederhana. Menjelang siang, saya membaca sebuah rambu yang isinya larang bagi
becak untuk beroperasi, ketika saya perhatikan lebih detail itu rambu yang
keluarkan oleh Pemda DKI Jakarta. Saya sangat senang karena akhirnya sampai
juga di Jakarta. Sepanjang perjalanan itu kami tidak makan apapun, karena kami
tidak menemukan warung nasi. Kami hanya sekedar meminta air saja sepanjang
perjalanan. Ketika sampai di Cijantung, saya mengatakan kepada yang lain untuk
beristirahat karena telapak kaki saya semakin sakit. Kamipun beristirahat di
sebuah SPBU, saat itu saya mulai pesimis bisa sampai tempat tujuan dan matahari
pun sudah berada tepat diatas kepala.
Menjelang
sore hari langkah kaki sudah sangat lambat, bila dibandingkan dengan seorang
ibu tua yang berjalan sambil membawa belanjaannya. Benar-benar rasanya sudah
seperti titik maksimal, ingin rasanya segera menyerah. Untungnya saya melihat
PGC, ada kelegaan dalam diri saya yang muncul karena perjalanan sudah tidak
jauh lagi. Pesimisme mulai pudar dan munculah optimisme bahwa saya bisa sampai
ditempat tujuan pada hari itu, tidak peduli jam berapapun itu. Sampai di
Stasiun Jatinegara sudah sekitar setengah lima sore, perjalanan masih berlanjut
dengan berbekal air minum sisa di tas masing-masing. Sang surya pun mulai
kembali keperaduannya menyisakan semburat cahaya jingganya yang menuntun kami
ke tempat tujuan. Saya bisa sampai di tempat tujuan sebelum tahun berganti. Saya
merasa sangat bersyukur karena mampu menjalankan tugas ini, karena banyak nilai yang didapatkan serta tidak semua
orang pernah merasakannya.