Minggu, 11 Mei 2014

Katekese Umat

Gereja selalu mengingatkan orangtua Katolik bahwa mereka merupakan pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya. Itulah panggilan utama orangtua untuk berperan serta dalam karya penciptaan Allah. Cinta kasih ayah dan ibu dalam perkawinan yang monogam dan tak terceraikan sangat mempengaruhi pandangan anak tentang nilai-nilai kehidupan yang humanis-Kristiani. Cinta kasih orangtua diwujudkan dalam nilai keramah-tamahan, ketabahan, kebaikan hati, pengabdian, sikap tanpa pamrih, dan pengorbanan diri.
Di tengah arus budaya konsumeristis-materialistis, hendaknya orangtua memperlihatkan kepada anak bahwa manusia lebih bernilai karena kenyataan dirinya, dibanding hartanya. Maka, katekese keluarga adalah katekese teladan dan bukan ceramah, indoktrinasi, dan nasihat moralistis murahan. Katekese keluarga hanya dapat diberikan oleh orangtua. Imam dan biarawan/i tidak dapat mengambil alih tugas itu. Katekese keluarga ”tidak tergantikan dan tidak dapat diambil alih dan karena itu tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada orang lain” (FC, 36). Maka, para imam dan biarawan/i yang menangani kerasulan keluarga harus tahu diri dan sadar akan keterbatasannya.
 Orangtua tentu saja tidak seterampil berkatekese seperti katekis-akademis dan juga tidak memakai metode teologis seperti seorang imam. Orangtua tidak secara khusus mempelajari keterampilan berkomunikasi, berefleksi, dan menafsir Kitab Suci. Banyak orangtua pun kurang mengetahui ajaran Kristiani secara detil. Namun, peran mereka justru dalam menampilkan sikap-sikap Kristiani. Sikap adalah ekspresi terdalam yang diungkapkan melalui tingkah laku. Melalui bahasa tubuh dan ekspresi wajah, orangtua mempengaruhi anak. Sikap lebih jujur dibanding kata-kata.
 Bagi anak-anak, sikap Kristiani orangtua adalah pustakawan masa lalu, penutur masa kini, dan peramal masa depan. Sikap orangtua menentukan cara anak memandang kehidupan. Dalam dunia dewasa ini yang penuh dengan kata-kata yang telah terkontaminasi, sikap Kristiani yang jujur dari orangtua akan menentukan mutu Kristiani anak-anak. Maka, orangtua hendaknya mengembangkan sikap Kristiani melalui bacaan Kitab Suci, mempelajari Ajaran Gereja, dan merayakan sakramen-sakramen, terlebih Ekaristi. ”Sikap yang baik dan sehat terhadap kehidupan akan jauh lebih mengubah diri kita daripada mengubah masyarakat. Perubahan tidak bisa muncul dari orang lain. Perubahan harus dimulai dari diri kita” (John C. Maxwell, 2012:281).

Lazimnya, Ketua Komisi Keluarga Keuskupan dijabat oleh seorang imam atau biarawan/i, demikian juga Sekretaris Eksekutif Komisi Keluarga Keuskupan/ KWI, diemban oleh imam. Tentu saja pengetahuan teologis tentang perkawinan/keluarga dari seorang imam melebihi kaum awam. Namun, pengalaman membina perkawinan dan mendidik anak justru dialami orangtua. Pengalaman orangtua kadangkala sulit diungkapkan dengan kata. Namun, janganlah meremehkan pengalaman itu. Para selibater hendaknya tidak menggurui para orangtua. Dalam meningkatkan mutu katekese keluarga, sebaiknya para selibater bertindak sebagai pendamping.
Dengan hati terbuka dan pikiran kritis, para selibater mau mendengarkan kesaksian orangtua. Para selibater hanya berperan sebagai penyalur pandangan Kristen tentang perkawinan pada umumnya dan perkawinan orang beriman pada khususnya. Karena bagaimanapun pula, ”para selibater yang status sosio-ekonomis dan budaya agak tinggi jaranglah orang yang paling cocok untuk pastoral perkawinan dan keluarga. Mereka sukar mendapat empati mendalam yang perlu guna mendampingi perkawinan orang yang status sosio-ekonomis dan budaya yang terlalu berbeda” (C. Groenen OFM, 1993:418).
Jelaslah, katekese keluarga berarti meningkatkan pendampingan pastoral bagi orangtua dalam membina perkawinannya. Hendaknya pendampingan pastoral perkawinan diemban oleh para imam dan biarawan/i yang telah teruji penghayatan selibatnya. Perkawinan yang monogam dan kehidupan selibat demi Kerajaan Allah merupakan dua sisi dari satu mata uang yang sama. Semoga para imam ”tiada hentinya menghadapi keluarga-keluarga sebagai bapa, saudara, gembala, dan guru, dan mendampingi mereka dengan upaya-upaya rahmat serta menyinari mereka dengan cahaya kebenaran” (FC, 73).

Jacobus Tarigan Pr
Penulis buku Dari Keluarga untuk Gereja

http://www.hidupkatolik.com/2012/09/26/katekese-keluarga

Are you really exists??

LOOK UP



Sudahkah kalian menonton video diatas?? Jika belum, tonton dulu yuukk…
Video ini sangat inspiratif bagi saya. Secara gamblang diperlihatkan realitas umat manusia di era teknologi ini. Teknologi yang seyogyanya menjadi pendukung segala aktifitas manusia telah bergerak menjadi pusat kehidupan manusia.
Saya pun terkadang terjebak pada situasi semacam itu, bagaimana dengan kalian??
Pertanyaan yang muncul adalah, “apakah kita telah benar-benar hadir bagi orang disekitar kita, atau hanya fisik kita sajalah yang ada bersama orang lain??”
Disini saya akan mengkaitkan video ini dengan katekese. Katekese seperti apa yang kiranya berkaitan dengan video diatas. Sesungguhnya video diatas sangat berkaitan dengan katekese. Katekese didasari dengan kehadiran beberap pihak dalam sebuah pengajaran agama. Perlu ada komunikasi dua arah dan keikutsertaan jiwa dan raga dalam momen tersebut. Oleh karena itu, sebuah katekese bisa menggunakan kemajuan teknologi, seperti apa yang saya lakukan ini, akan tetapi tetap harus ada batasannya. Bagaimana kita memanfaatkan tenologi dan membuatnya berguna bagi perkembangan iman kita. 
Sebagai orang yang hidup di era ditigal, terutama para kaum muda harusnya belajar untuk manju menjadi agent yang Cerdas Beriman dan Cerdas Berteknologi.

Pertanyaan besarnya, " Apakah kita semua telah memberi diri kita secara utuh bagi orang terdekat kita sebagai sebuah langakah sederhana menjadi saksi Kristus ditengah arus perkembangan teknologi??

Terima kasih. Tuhan Memberkati.

Semua berawal dari Keluarga (?)

parentfurther.com
Pernahkah kalian mendengar soundtrack dari sebuah sinetron yang berjudul Keluarga Cemara?? Bila belum pernaha saya ingin share kepada kalian tentang bait pertamanya yang berbunyi “Harta yang paling berharga adalah keluarga,
Istana yang paling indah adalah keluarga,
Mutiara tiada tara adalah Keluarga”
Bait lagu tersebut sarat akan makna bahwa keluarga ada segalanya bagi siapa pun. Apakah kalian pernah atau masih merasakannya??
Disini saya tidak memiliki tendensi untuk menggurui, saya hanya sekedar ingin berbagi dari apa yang saya miliki dan alami. Mungkin adanya bertanya-tanya mengapa saya mengangkat tema tentang keluarga, khususnya katekese keluarga. Pada post saya yang sebelumnya saya menampilkan sebuah video yang berkaitan dengan pentingnya kehadiran sesama, baik itu keluarga, sahabat, dan teman.  Pada kesempatan ini saya ingin mengajak semua pembaca untuk bisa melihat kembali relasi kita dengan keluarga selama ini. Apakah kita sudah dan masih merasakan seperti apa yang ditampilkan pada gambar di atas.
Selanjutnya, saya ingin lebih fokus kearah kateketis. Bagi saya, sebuah pendidikan iman seorang anak dimulai atau ditumbuhkan dari dalam keluarga. Saya pun pernah mendengar bahwa keluarga adalah Gereja Kecil, dan itu tepat bagi saya. Bagaimana menurut anda??
Berkaca kepada keteladanan keluarga Kudus Nazareth, mari kita bangun Gereja dan Bangsa mulai hal yang sederhana, mulai dari dalam keluarga. Tidak ada kata terlambat untuk belajar menjadi lebih baik, lebih baik terlambat untuk berubah daripada sama sekali tidak mau berubah.
Jangan sampai keluarga kita sampai terjebak pada kemajuan teknologi seperti ilustrasi dibawah ini. 

whattheflicka.com

Terima kasih, Tuhan Memberkati.

Kamis, 08 Mei 2014

Mari Saksikan dan Renungkan


Video singkat diatas merupakan sebuah iklan komersial dari Thailand, tetapi bukan hal itu yang akan kita coba diskusikan. Bila kita perhatikan dengan seksama, video diatas ingin mengatakan ayo berikan waktumu untuk orang-orang disekitarmu. Memberikan arti bagi orang terdekat kita dimulai dengan langkah sederhana, yaitu mau hadir secara utuh disisi mereka. Aapakah ketika melihat video ini terbersit pikiran, "kokmirip dengan saya ya??" atau, "Saya pernah mengalami masa-masa seperti itu??".  Mari kita renungkan kembali, apakah kita sudah bersikap lebih peduli dengan orang disekitar kita??
Saya menawarkan kesempatan bagi kita untuk melihat sisi kateketiknya. Mungkin anda yang bertanya apa kaitannya dengan Katekese?? Katekese merupakan sebuah pengajaran atau pembinaan Iman. Katekese bisa dimulai dari lingkup yang kecil dan dari hal yang sederhana. Mau hadir secara utuh merupakan sebuah bentuk kesaksisan bahwa kita sepenuhnya ada bagi sesama kita. Kehadiran terkesan sepele bagi mereka yang tidak pernah memaknai sebuah perjumpaan dengan orang lain. Akan tetapi, dalam pemahaman saya sebuah relasi, kebersamaan, dan keintiman diawali dari hadir secara bersama. Kehadiran dapat memunculkan hal-hal yang positif lainnya. Ini sama halnya dengan sebuah pembinaan Iman yang perlu ada yang memberi, menerima dan medianya. Media yang digunakan tidak hanya pengajaran seperti dikelas saja, bisa menggunakan permainan, alat musik, bahkan teknologi, termasuk blog seperti ini :) Namun, dalam penggunaan teknologi harus lebih bijaksana, karena yang lebih penting adalah sebuah perjumpaan yang 'real'....
Teknologi mampu mempermudah dan membantu meringankan tugas manusia termasuk dalam berkatekese.. Akan tetapi, jangan sampai terjebak pada "mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat"..

Apakah kamu satu yang tersesat di kemajuan teknologi?? Hanya kamu yang bisa menjawabnya...

Deo Gratias....