Gereja selalu mengingatkan orangtua Katolik
bahwa mereka merupakan pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya. Itulah
panggilan utama orangtua untuk berperan serta dalam karya penciptaan Allah.
Cinta kasih ayah dan ibu dalam perkawinan yang monogam dan tak terceraikan
sangat mempengaruhi pandangan anak tentang nilai-nilai kehidupan yang
humanis-Kristiani. Cinta kasih orangtua diwujudkan dalam nilai keramah-tamahan,
ketabahan, kebaikan hati, pengabdian, sikap tanpa pamrih, dan pengorbanan diri.
Di tengah arus budaya
konsumeristis-materialistis, hendaknya orangtua memperlihatkan kepada anak
bahwa manusia lebih bernilai karena kenyataan dirinya, dibanding hartanya. Maka, katekese
keluarga adalah katekese teladan dan bukan ceramah, indoktrinasi, dan nasihat
moralistis murahan. Katekese keluarga hanya dapat diberikan oleh orangtua. Imam
dan biarawan/i tidak dapat mengambil alih tugas itu. Katekese keluarga ”tidak
tergantikan dan tidak dapat diambil alih dan karena itu tidak dapat diserahkan sepenuhnya
kepada orang lain” (FC, 36). Maka, para imam dan biarawan/i yang menangani
kerasulan keluarga harus tahu diri dan sadar akan keterbatasannya.
Orangtua tentu saja tidak seterampil
berkatekese seperti katekis-akademis dan juga tidak memakai metode teologis
seperti seorang imam. Orangtua tidak secara khusus mempelajari keterampilan
berkomunikasi, berefleksi, dan menafsir Kitab Suci. Banyak orangtua pun kurang
mengetahui ajaran Kristiani secara detil. Namun, peran mereka justru dalam
menampilkan sikap-sikap Kristiani. Sikap adalah ekspresi terdalam yang
diungkapkan melalui tingkah laku. Melalui bahasa tubuh dan ekspresi wajah,
orangtua mempengaruhi anak. Sikap lebih jujur dibanding kata-kata.
Bagi anak-anak, sikap Kristiani orangtua
adalah pustakawan masa lalu, penutur masa kini, dan peramal masa depan. Sikap
orangtua menentukan cara anak memandang kehidupan. Dalam dunia dewasa
ini yang penuh dengan kata-kata yang telah terkontaminasi, sikap Kristiani yang
jujur dari orangtua akan menentukan mutu Kristiani anak-anak.
Maka, orangtua hendaknya mengembangkan sikap Kristiani melalui bacaan Kitab
Suci, mempelajari Ajaran Gereja, dan merayakan sakramen-sakramen, terlebih
Ekaristi. ”Sikap yang baik dan sehat terhadap kehidupan akan jauh lebih
mengubah diri kita daripada mengubah masyarakat. Perubahan tidak bisa muncul
dari orang lain. Perubahan harus dimulai dari diri kita” (John C. Maxwell,
2012:281).
Lazimnya, Ketua Komisi Keluarga Keuskupan
dijabat oleh seorang imam atau biarawan/i, demikian juga Sekretaris Eksekutif
Komisi Keluarga Keuskupan/ KWI, diemban oleh imam. Tentu saja pengetahuan
teologis tentang perkawinan/keluarga dari seorang imam melebihi kaum awam.
Namun, pengalaman membina perkawinan dan mendidik
anak justru dialami orangtua. Pengalaman orangtua kadangkala sulit diungkapkan
dengan kata. Namun, janganlah meremehkan pengalaman itu. Para selibater
hendaknya tidak menggurui para orangtua. Dalam meningkatkan mutu katekese
keluarga, sebaiknya para selibater bertindak sebagai pendamping.
Dengan hati terbuka dan pikiran kritis, para
selibater mau mendengarkan kesaksian orangtua. Para selibater hanya berperan
sebagai penyalur pandangan Kristen tentang perkawinan pada umumnya dan
perkawinan orang beriman pada khususnya. Karena bagaimanapun pula, ”para
selibater yang status sosio-ekonomis dan budaya agak tinggi jaranglah orang
yang paling cocok untuk pastoral perkawinan dan keluarga. Mereka sukar mendapat
empati mendalam yang perlu guna mendampingi perkawinan orang yang status sosio-ekonomis dan budaya yang terlalu
berbeda” (C. Groenen OFM, 1993:418).
Jelaslah, katekese keluarga berarti
meningkatkan pendampingan pastoral bagi orangtua dalam membina perkawinannya.
Hendaknya pendampingan pastoral perkawinan diemban oleh para imam dan
biarawan/i yang telah teruji penghayatan selibatnya. Perkawinan yang monogam
dan kehidupan selibat demi Kerajaan Allah merupakan dua sisi dari satu mata
uang yang sama. Semoga para imam ”tiada hentinya menghadapi keluarga-keluarga
sebagai bapa, saudara, gembala, dan guru, dan mendampingi mereka dengan
upaya-upaya rahmat serta menyinari mereka dengan cahaya kebenaran” (FC, 73).
Jacobus Tarigan Pr
Penulis buku Dari Keluarga untuk Gereja
http://www.hidupkatolik.com/2012/09/26/katekese-keluarga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar